8 Hal Penting Untuk
Mencetak Anak Yang Shaleh
Berikut ini diantara tuntunan
syar’i dalam pendidikan anak yang dibawakan oleh seorang ‘alim Syaikh Abu ishaq
Al-Huwainy :
1.Anak kecil adalah manusia
kecil yang selalu membutuhkan kelembutan, cinta yang dalam dan kasih sayang
yang murni.
Bermain
dan bercanda dengan mereka merupakan bentuk kasih sayang dan menunjukkan
kepahaman seseorang terhadap dien ini. .
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari:
“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping
beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku
punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah
Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang
tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi”.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:
“Telah datang seorang badui kepada Nabi Shallahu’alaihi wasallam dan ia
berkata: kalian menciumi anak-anak kecil, tapi kami tidak pernah menciumi
meraka. Berkatalah Nabi Shallahu’alaihi wasallam: Aku tak kuasa (memberi kasih
saying di hati kalian) jika Allah telah mencabut kasih saying itu dari hati
kalian.
2. Mengajarkan adab yang baik.
Mencandai
anak kecil tidak berarti meniadakan pendidikan dan pengajaran kebaikan kepada
mereka. Maka tidak ada kebaikan yang diberikan orang tua kepada anaknya yang
lebih baik selain adab yang baik. Kebaikan yang pertama kali yang harus
dipelajari adalah tentang pelaksanaan sholat wajib.
Berdasarkan sabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam :
“Perintahkanlah anak-anakmu shalat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah
mereka jika berumur 10 tahun. Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur” ( Hadits
shahih dikeluarkan Abu Daud, Tirmidzi, Ad-Darimi, Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Ibnu
Khuzaimah, Thahawy)
3. Hendaklah ditanamkan pada
jiwa anak untuk cinta Allah dan Rasul-Nya dan hendaklah pula ditanamkan sifat
dan sikap untuk mengutamakan Allah dan Rasul-Nya daripada yang selainNya.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam:
“Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian hingga aku lebih dicintai dari
orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari,
Muslim, Abu’Awanah, Nasa’i, Ibnu Majah)
4. Hendaknya anak diajari
Al-Qur’an dengan logat-logat Arab.
Menjadikan anak hafal Al-Qur’an
serta mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Terdapat keutamaan yang banyak dan
tak terhitung.
Berdasarkan sabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam:
“ Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya”.
(Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari, Abu Daud, Nasa’i)
Dan dalam sabda Beliau yang lain:
“Barangsiapa membaca 1 huruf dari kitabullah maka ia mendapatkan satu kebaikan.
Dan satu kebaikan itu akan dilipatkan menjadi 10 kali lipat. Aku tidak
mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf
dan mim satu huruf”. (Hadits Shahih dikeluarkan tirmidzi, Darimi, Abu Nu’aim
dll)
5. Hendaknya anak dijadikan
cinta kepada sunnah.
Dan hendaknya sunnah tersebut dihiaskan pada diri anak
sehingga sunnah tersebut meresap ke dalam hatinya.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam:
“Barangsiapa yang diberi umur panjang diantara kalian, maka ia akan melihat
perpecahan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan
Khulafa’ur rasyidun yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan
gigi gerahammu”. (Hadits Shahih dikeluarkan Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah,
Ad-Darimi,Ahmad, Ibnu Hibban)
6. Hendaklah anak dibuat
tidak suka terhadap bid’ah dan segala perkara yang mengantarkan kepada bid’ah.
Tidak
akan berkumpul sunnah dan bid’ah di hati seorang mukmin selamanya!
Dan tidak ada yang dinamakan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik).
Sabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam dalam sebuah hadits
shahih yang merupakan potongan dari khutbatul hajah yang masyhur:
“Setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat,
dan setiap kesesatan di neraka”.
7. Hendaklah anak dijadikan cinta
kepada ilmu dan ahlinya.
Juga
diajarkan kepada anak tentang sabar ketika sedang mencarinya terlebih ilmu-ilmu
syar’i. Karena sesungguhnya itu merupakan ilmu yang mulia.
Berdasarkan hadits Zirr bin Hubaisy, ia berkata:
“Aku mendatangi Shofwan bin ‘Assal al-Murady, maka ia berkata: Apa yang
mendorongmu dating kemari? Aku menjawab: Karena untuk mencari ilmu. Ia berkata:
Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya kepada pencari ilmu syar’i
karena ridha atas apa yang sedang ia cari”.
8. Berlaku adil kepada setiap anak.
Hal ini
merupakan kewajiban bagi orang tua. Sedangkan membeda-bedakan sesama mereka
merupakan keberanian melawan batas-batas (hukum-hukum) Allah dan pelanggaran
kehormatan dienNya.
Bersabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam:
“Berlaku adillah diantara anak-anakmu. Berlaku adillah terhadap anak-anakmu.
Berlaku adillah terhadap anak-anakmu”.
Itulah diantara kiat-kiat syar’i yang harus diperhatikan
pendidik untuk mencetak anak yang shalih. Generasi terakhir ummat ini tidak
mungkin menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi
awalnya. Wallahua’lam bishowab.
Sumber : majalah As-Sunnah Edisi 08/ThIV/1421-2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar